Jumat, 21 Maret 2014

CMM

Apa CMM itu ?

CMM adalah model kematangan kemampuan (kapabilitas) untuk membantu pendefinisian dan pemahaman proses-proses pada suatu organisasi. Pengembangan model ini dimulai pada tahun 1986 oleh SEI (Software Engineering Institute) atas permintaan  Departemen Pertahanan Amerika Serikat, Departement of Defense(DOD).

CMM awalnya ditujukan sebagai suatu alat untuk secara objektif menilai kemampuan kontraktor pemerintah untuk menangani proyek perangkat lunak yang diberikan. Walaupun berasal dari bidang pengembangan perangkat lunak, model ini dapat juga diterapkan sebagai suatu model umum yang membantu pemahaman kematangan kapabilitas proses organisasi di berbagai bidang. Misalnya rekayasa perangkat lunak, rekayasa sistem, manajemen proyek, manajemen risiko, teknologi informasi, serta manajemen sumber daya manusia.

Ciri Maturity Level secara Umum
       Proses pengembangan dari suatu organisasi disederhanakan dan dideskripsikan dalam wujud tingkatan kematangan dalam jumlah tertentu (biasanya empat hingga enam tingkatan)
       Tingkatan kematangan tersebut dicirikan dengan beberapa persyaratan tertentu yang harus diraih.
       Tingkatan-tingkatan yang ada disusun secara sekuensial, mulai dari tingkat inisial sampai pada tingkat akhiran (tingkat terakhir merupakan tingkat kesempurnaan)

Selama pengembangan, sang entitas bergerak maju dari satu tingkatan ke tingkatan berikutnya tanpa boleh melewati salah satunya, melainkan secara bertahap berurutan.
Pada tahun 2000 CMM dileburkan ke dalam CMMI (Capability Maturity Model Integration). Peleburan ini disebabkan karena adanya kritik bahwa pengaplikasian CMM di pengembangan perangkat lunak khususnya bisa menimbulkan masalah karena model CMM yang belum terintegrasi di dalam dan di seantero organisasi. Ini kemudian memunculkan beban biaya dalam hal pelatihan, penaksiran kinerja, dan aktivitas perbaikan.
Namun CMM masih tetap digunakan sebagai model acuan teoritis di ranah publik untuk konteks yang berbeda. CMM sendiri telah diganti namanya menjadi SE-CMM (Software Engineering CMM).

Secara harfiah, CMM dapat diartikan sebagai berikut:
  • Capability, diartikan menjadi kapabilitas yang berarti kemampuan yang bersifat laten. Dalam CMM ini, Capability lebih mengarah kepada integritas daripada kapabilitas itu sendiri.
  • Maturity,  berarti matang atau dewasa. Matang merupakan hasil proses. Dewasa merupakan hasil pertumbuhan.
  • Model, didefinisikan sebagai suatu penyederhanaan yang representatif terhadap keadaan di dunia nyata.
Nilai-nilai yang dilihat dalam pengukuran tersebut:
       Apa yang diukur (Parameter)
       Bagaimana cara mengukurnya (Metode)
       Bagaimana standar penilaiannya (Skala Penilaian)
       Bagaimana Interpretasinya (Bagi Manusia)

Terdapat 5 level dalam CMM :

J   Initial
J   Repeatable
J   Defined
J   Managed
J   Optimizing

1. @  Initial Level
Kriteria dari initial level adalah: 
      -  tidak ada manajemen proyek
       - tidak ada quality assurance
       - tidak ada mekanisme manajemen perubahan (change management)
       - tidak ada dokumentasi 
       - terdapat ketergantung pada kemampuan individual

2@.   Repeatable Level
Ciri-ciri dari repeatable level adalah: 
       - kualitas perangkat lunak mulai bergantung pada proses bukan pada individu
       - ada manajemen proyek sederhana
      -  ada quality assurance sederhana
      -  ada dokumen sederhana
      -  ada software configuration management sederhana, 
       - tidak ada knowledge management
       - tidak ada komitmen untuk mengikuti SDLC dalam kondisi apapun
  - tidak ada stastikal control untuk estimasi proyek dan rentan perubahan struktur organisasi.

3.  @  Defined Level
Ciri-ciri dari Defined level adalah:
       - SDLC sudah ditentukan
       - ada komitmen untuk mengikuti SDLC dalam keadaan apapun
   - kualitas proses dan produk masih bersifat kualitatif atau hanya perkiraan saja
       - tidak menerapkan Activity Based Costing
       - tidak ada mekanisme umpan balik yang baku

4 .   @ Managed Level
Ciri-cirinya Managed Level adalah
                  -   sudah ada Activity Based Costing yang digunakan untuk estimasi proyek berikutnya
      - proses penilaian kualitas perangkat lunak dan proyek masih bersifat kuantitatif
    - terjadi pemborosan biaya untuk pengumpulan data karena proses pengumpulan data masih dilakukan secara manual
       sudah memiliki mekanisme umpan balik
       tidak ada mekanisme pencegahan defect  

   5. Optimized Level
Pengumpulan data secara automatis
       ada mekanisme pencegahan defect
       ada mekanisme umpan balik yang baik 
       ada peningkatan kualitas dari SDM 
       ada peningkatan kualitas proses.

Kegunaan CMM
 Untuk menilai tingkat kematangan sebuah organisasi pengembang perangkat lunak
     Untuk menyaring kontraktor yang akan menjadi pengembang perangkat lunak
 Untuk memberikan arah akan peningkatan organisasi bagi top management di dalam sebuah organisasi pengembang perangkat lunak
  Sebagai alat bantu untuk menilai keunggulan kompetitif yang dimiliki sebuah perusahaan dibandingkan perusahaan pesaingnya.

Internal Structure of Maturity Level




▪  Kecuali di level 1, setiap level akan diurai ke dalam Key Process Areas (KPA)
 Setiap KPA mengidentifikasi sekelompok kegiatan terkait yang, bila dilakukan secara kolektif, mencapai serangkaian tujuan dianggap penting untuk meningkatkan kemampuan perangkat lunak, terdiri atas:
       commitment
       ability
       activity
       measurement
      
verification


Keuntungan CMM
  Membantu membentuk visi bersama tentang apa berarti perbaikan proses perangkat lunak untuk organisasi
   Mendefinisikan menetapkan prioritas untuk mengatasi masalah software
 Mendukung pengukuran proses dengan menyediakan kerangka kerja untuk melakukan penilaian yang dapat diandalkan dan konsisten
    Menyediakan kerangka kerja untuk konsistensi proses dan produk


Measurement of CMM
Ø  Historical
Ø  Plan
Ø  Actual
Ø  Projections


Penerapan CMMI


Huawei (Level 5)
Litbang di Huawei menjadi bagian terpenting dari industri teknologi baik software maupun hardware. Inilah yang membuat Huawei terbukti responsif terhadap kebutuhan masa depan dan masa kini pelanggan. Investasi di area ini penting untuk terus-menerus mengembangkan teknologi, solusi dan layanan yang tujuan akhirnya adalah memaksimalkan keuntungan dan memberikan nilai tambah bagi pelanggan.

Pada akhir September 2008, sekitar 44% dari total 96.800 karyawan Huawei terlibat dalam R&D. Sebagai bagian terintegrasi dari keseluruhan proses, Huawei menanamkan kembali 10% pendapatan dari hasil penjualannya untuk riset dan pengembangan di mana 10% tersebut diarahkan untuk mendanai pengembangan berbagai teknologi mutakhir dan teknologi dasar setiap tahunnya.


Perusahaan Internasional lainnya yang meraih level maturity 5 adalah Toshiba, NASA dan ATSI (The Association of Thai Software Industry).


CMMI

Capability Maturity Model Integration (CMMI) merupakan suatu model pendekatan dalam penilaian skala kematangan dan kemampuan sebuah organisasi perangkat lunak. CMMI pada awalnya dikenal sebagai Capability Maturity Model (CMM) yang dikembangkan oleh Software Enginnering Institute di Pittsburgh pada tahun 1987. Namun perkembangan selanjutnya CMM menjadi CMMI. CMMI mendukung proses penilaian secara bertingkat. Penilaiannya tersebut berdasarkan kuisioner dan dikembangkan secara khusus untuk perangkat lunak yang juga mendukung peningkatan proses.

CMMI memiliki 4 aturan yang dapat disesuaikan menurut organisasi software, yakni:
- System Engineering(SE)
- Software Engineering(SW )
- Integrated Product and Process Development (IPPD)
- Supplier Sourcing (SS)

Beberapa keuntungan yang diperoleh saat perusahaan menerapkan CMMI:
 Penilaian studi kualitas (assessing) atas proses kematangan (maturity) terkini.
 Meningkatkan kualitas struktur organisasi dan pemrosesan dengan mengikuti pendekatan best-practice.
      Digunakan dalam proses uji-kinerja (benchmarking) dengan organisasi lainnya.
      Meningkatkan produktivitas dan menekan resiko proyek.
      Menekan resiko dalam pengembangan perangkat lunak.
      Meningkatkan kepuasan pelanggan.
      Mempunyai fitur-fitur yang bersifat institusional, yaitu komitmen, kemampuan untuk melakukan sesuatu, analisis dan pengukuran serta verifikasi implementasi.
      Tersedianya Road Map untuk peningkatan lebih lanjut.

CMMI LEVEL

vMaturity level 1 Initialized
Secara umum, organisasi yang berapa pada level 1 adalah organisasi yang belum menjalankan CMMI. Tidak terdapatnya proses yang standar dalam pengembangan IT, banyak perubahan yang bersifat ad-hoc (begitu terdapat defect, langsung di coba diperbaiki tanpa melihat penyebab utama secara menyeleruh) dan sangat sedikit kontrol. Organisasi semacam ini umumnya sangat tergantung terhadap 'orang', tidak tergantung kepada 'sistem'. Jika terdapat satu orang yang 'cerdas', dia akan menangani semuanya sebagai 'hero' dan pada saat 'orang' ini tidak ada, maka proyek akan bergoyang.
v Maturity level 2 Managed
Organisasi ini telah memiliki beberapa proses yang sering digunakan salam setiap proyek pengembangan, tetapi tidak terdapat keseragaman secara menyeluruh. Proses sudah mulai berjalan secara konsisten, tetapi tidak menyeluruh di semua lini organisasi.
v Maturity level 3 Defined.
Pada ML3 ini sebuah organisasi telah mencapai seluruh specific dan generic goals pada Level 2 dan Level 3. Proses dicirikan dengan terjadinya penyesuaian dari kumpulan proses standar sebuah organisasi menurut pedoman-pedoman pada organisasi tersebut, menyokong hasil kerja, mengukur, dan proses menambah informasi lain menjadi milik organisasi.
v Maturity level 4 Quantitatively Managed
Pada ML4 ini, sebuah organisasi telah mencapai seluruh specific dan generic goals yang ada pada Level 2, 3, dan 4. Proses yang terjadi dapat terkontrol dan ditambah menggunakan ukuran-ukuran dan taksiran kuantitatif. Sasaran kuantitatif untuk kualitas dan kinerja proses ditetapkan dam digunakan sebagai kreteria dalam manajemen proses.
v Maturity level 5 Optimizing
Pada ML5 ini suatu organisasi telah mencapai seluruh specific dan generic goals yang ada di Level 2, 3, 4, dan 5. ML5 fokus kepada peningkatan proses secara berkesinambungan melalui inovasi teknologi.


Rabu, 19 Maret 2014

Requirement Engineering Sistem Informasi dengan Model TOGAF

Enterprise Architecture adalah satu praktek manajemen untuk memaksimalkan kontribusi dari sumber daya perusahaan, investasi TI, dan aktivitas pembangunan sistem untuk mencapai tujuan kinerjanya.


4 Model dari Enterprise Architecture Framework :
   The Zachman Framework for Enterprise Architectures
   The Open Group Architecture Framework (TOGAF)
   The Federal Enterprise Architecture (FEA)
   Gartner (Meta Framework)

The Open Group Architecture Framework (TOGAF)
adalah satu kerangka terperinci dan alat pendukung untuk mengembangkan satu Enterprise Architecture yang dipergunakan dengan bebas oleh organisasi apapun yang mengembangkan untuk mendesain, evaluasi, dan membangun blueprint Teknologi Informasi.
TOGAF (The Open Group ArchitectureFramework) memberikan metode detil bagaimana membangun, mengelola, dan mengimplementasikan arsitektur enterprise dan sistem informasi yang disebut dengan Architecture Development Method.

Struktur dan Komponen TOGAF
    Architecture Development Method
    menjelaskan bagaimana menemukan sebuah arsitektur perusahaan/organisasi secara khusus berdasarkan kebutuhan bisnisnya.
    Foundation Architecture (Enterprise Continuum)
 sebuah “framework-within-a-framework” yang menyediakan hubungan bagi pengumpulan asset arsitektur yang relevan dan menyediakan bantuan petunjuk pada saat terjadinya perpindahan abstraksi level yang berbeda.
Yang terdiri atas :
1. Technical Reference Model, model danklasifikasi dari platform layanan generic
2. Standard Information Base, standar-standardasar dari informasi
3. Building Block Information Base, blok-blok dasar informasi di masa datang
    Resource Base
 bagian ini memberikan sumber informasi berupa guidelines, templates, checklist, latar belakang informasi dan detail material pendukung yang membantu arsitek dalam penggunaan (ADM).

Architecture Development Method (ADM)
Metodologi untuk desain arsitektur didalam TOGAF disebut architecture development method (ADM) yaitu suatu proses yang menyeluruh, terintegrasi untuk mengembangkan dan memelihara suatu EA.

ADM dilengkapi dengan banyak alat bantu baik dalam perencanaan dan prosesnya, yaitu :
     Satu set arsitektur view yang mencakup view bisnis, data, aplikasi dan teknologi.
     Satu set deliverables yang direkomendasikan.
     Linkages dengan banyak studi kasus yang nyata.
      Metode untuk mengelola requirement.

Tahapan-tahapan ADM :
   Tahap persiapan (Preliminary Phase): Mendefinisikan kerangka dan prinsip.
  Phase A: Architecture Vision. Mendefinisikan scope, vision dan memetakan strategi.
 Phase B: Business Architecture. Mendeskripsikan bisnis arsitektur saat ini dan sasaran dan menentukan celah (gap) di antara mereka. 
 Phase C: Information System Architecture. Mengembangkan arsitektur sasaran untuk data dan aplikasi. 
 Phase D: Technology Architecture. Menciptakan sasaran keseluruhan arsitektur yang akan diterapkan pada tahapan kedepan. 
 Phase E: Opportunities and Solutions. Mengembangkan strategi keseluruhan, menentukan apa yang akan dibeli, membangun atau penggunaan ulang, dan bagaimana menerapkan arsitektur yang dideskripsikan di phase D.
     Phase F: Migration Planning. Mendahulukan proyek dan mengembangkan migrasi yang terencana. 
 Phase G: Implementation Governance. Menentukan persiapan untuk implementasi. 
  Phase H: Architecture Change Management. Memonitor sistem yang sedang berjalan untuk kepentingan perubahan dan menentukan tahapan siklus.

PENGANTAR SISTEM INFORMASI MANAJEMEN

Sistem Informasi Manajemen, terdri dari tiga suku kata. yang mana masing-masing kata mempunyai arti sendiri. Sistem-Informasi-Manajemen. secara umum ketiga kata ini berarti :
- SISTEM
adalah sekelompok elemen-elemen yang terintegrasi dengan maksud yang sama untuk mencapai suatu tujuan.
- INFORMASI
adalah data yang telah diolah menjadi suatu bentuk yang penting bagi penerima dan mempunyai nilai yang nyata yang dapat dirasakan dalam keputusan-keputusan yang sekarang atau keputusan-keputusan yang akan datang.
- MANAJEMEN
adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya dari anggota organisasi serta penggunaan sumber daya yang ada pada organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya.
Sedangkan menurut Obrein, Sistem Informasi Manajemen (SIM) adalah suatu sistem terpadu yang menyediakan informasi untuk mendukung kegiatan operasional, manajemen dan fungsi pengambilan keputusan dari suatu organisasi.
   SIM merupakan kombinasi yang teratur antara people, hardware, software, communication network dan data resources (kelima unsur ini disebut komponen sistem informasi) yang mengumpulkan, merubah dan menyebarkan informasi dalam organisasi.

Tujuan dari Sistem Informasi Sistem adalah :
      Menyediakan informasi yang dipergunakan di dalam perhitungan harga pokok jasa, produk, dan tujuan lain yang diinginkan manajemen.
  Menyediakan informasi yang dipergunakan dalam perencanaan, pengendalian, pengevaluasian, dan perbaikan berkelanjutan.
       Menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan.

Komponen Sistem Informasi Manajemen adalah :
       Konsep-konsep dasar
          konsep dasar keprilakuan, teknis, bisnis, dan manajerial termasuk mengenai berbagai komponen dan peran sistem informasi.
       Teknologi informasi
         Konsep-konsep utama, pengembangan, dan berbagai isu manajemen teknologi informasi yaitu meliputi hardware, software, jaringan, manajemen, dan banyak teknologi berbasis internet.
       Aplikasi bisnis
          Penggunaan utama dari SI untuk operasi manajemen dan keunggulan kompetitif bisnis.
       Proses pengembangan
        Bagaimana para praktisi bisnis dan pakar informasi merencanakan, mengembangkan, dan mengimplementasikan sistem informasi untuk memenuhi peluang bisnis.
       Tantangan manajemen
           Tantangan untuk secara efektif dan etis mengelola teknologi informasi pada tingkat pemakaian akhir, perusahaan, dan global bisnis.

Peran Utama SIstem Informasi Manajemen adalah : 

       Mendukung proses bisnis dan operasional
       Mendukung pengambilan keputusan
       Mendukung strategi untuk keunggulan kompetitif

Komponen dan Aktivitas Sistem Informasi adalah : 

1. Sumber Daya Manusia
      Manusia dibutuhkan untuk pengoperasian semua sistem informasi. Sumber daya manusia ini meliputi pemakai akhir dan pakar SI.
    Pemakai akhir, adalah orang-orang yang menggunakan sistem informasi atau informasi yang dihasilkan sistem tersebut.
       Pakar SI, adalah orang-orang yang mengembangkan dan mengoperasikan sistem informasi
2. Sumber Daya Hardware
  Meliputi semua peralatan dan bahan fisik yang digunakan dalam pemrosesan informasi. Contoh-contoh hardware dalam sistem informasi berbasis komputer adalah :
 Sistem komputer, yang terdiri dari unit pemrosesan pusat yang berisi pemrosesan mikro, dan berbagai peralatan periferal yang saling berhubungan.
  Periferal komputer, yang berupa peralatan seperti keyboard atau mouse elektronik untuk input data dan perintah, layar video, atau printer untuk output informasi, dan disk magnetis atau optikal untuk menyimpan sumber daya data.
3. Sumber Daya Software
    Meliputi semua rangkaian perintah pemrosesan informasi. contohnya adalah :
    Software sistem, seperti program sistem operasi, yang mengendalikan serta mendukung operasi sistem komputer.
   •    software aplikasi, yang memprogram pemrosesan langsung bagi pengguna tertentu komputer oleh pemakai akhir.
  •  Prosedur, yang mengoperasikan perintah bagi orang-orang yang akan menggunakan sistem informasi.
4. Sumber Daya Data
    Data dapat berupa banyak bentuk, termasuk data alfanumerik tradisional, yang terdiri dari angka dan huruf serta karakter lainnya yang menjelaskan transaksi bisnis dan kegiatan entitas lainnya. Data teks, terdiri dari kalimat dan paragraf yang digunakan dalam menulis komunikasi, data gambar, seperti bentuk grafik dan angka, serta gambar video grafis dan video; serta data audio, suara manusia dan suara-suara lainnya, juga merupakan bentuk data yang penting. Sumber daya sistem informasi umumnya diatur, disimpan, dan diakses oleh berbagai teknologi pengolahan pengelolaan sumber daya data ke dalam :
       database yang menyimpan data yang telah diproses dan diatur.
       dasar pengetahuan yang menyimpan pengetahuan dalam berbagai bentuknya, seperti fakta, peraturan.
5. Sumber daya jaringan
   Menekankan bahwa teknologi informasi dan jaringan adalah komponen sumber daya dasar dari semua sistem informasi. Sumber daya jaringan meliputi :
       Media komunikasi
       Dukungan jaringan
6. Input sumber daya data
   Pemrosesan data menjadi informasi. data bisasanya tergantung pada aktivitas pemrosesan seperti penghitungan, perbandingan, penilaian, pengklasifikasian, dan pengikhtisarian.
7. Output produk informasi
    Informasi dalam berbagai bentuk dikirim ke pemakai akhir dan disediakan untuk mereka dalam aktivitas output. Tujuan dari sistem informasi adalah untuk menghasilkan produk informasi yang tepat bagi para pemakai akhir.
8. Penyimpanan sumber daya data
  Penyimpanan adalah komponen dasar sistem informasi. Penyimpanan adalah aktivitas sistem informasi tempat data dan informasi disimpan secara teratur untuk digunakan kemudian.
9. Pengendalian kinerja sistem
   Aktivitas sistem informasi yang penting adalah pengendalian kinerja sistem. Sistem informasi harus menghasilkan umpan balik mengenai aktivitas input, pemrosesan, output, dan penyimpanan. Umpan balik ini harus diawasi dan dievaluasi untuk menetapkan apakah sistem dapat memenuhi standar kinerja yang telah ditetapkan. Kemudian, aktivitas sistem yang tepat harus disesuaikan agar produk informasi yang tepat dihasilkan bagi para pemakai akhir.  


Penerapan Sistem Informasi

Sebagai BUMN yang wajib menerapkan prinsip Good Corporate Governance (GCG) atau dikenal dengan tata kelola Perusahaan yang baik dalam aspek bisnis dan pengelolaan perusahaan pada semua jajaran perusahaan, PLN menyusun tatakelola Teknologi Informasi dalam lingkup bisnis dan pelaksanaan pengelolaan perusahaan. Dukungan Teknologi Informasi dapat meningkatkan kapabilitas perusahaan dalam memberikan kontribusi bagi penciptaan nilai tambah, serta mencapai efektifitas dan efisiensi. Aspek kunci dari prinsip GCG meliputi adil, responsibilitas, transparansi, independensi, akuntabilitas, keselarasan dan kewajaran serta tanggung jawab untuk mencapai tujuan perusahaan.

Dengan Panduan Kebijakan Tata Kelola Teknologi Informasi BUMN (IT Governanve), seluruh BUMN diminta untuk melaksanakan GCG pada setiap aspek bisnis dan juga pengelolaan perusahaan pada semua jajarannya. Hal ini dapat mencerminkan dengan sangat baik suatu proses pengambilan keputusan juga leadership dalam penyelenggaran tata kelola Teknologi Informasi.
E-Procurement PLN (eProc) sebagai salah satu aplikasi yang merupakan implementasi dari IT Governance yang mendukung GCG. Terwujudnya aplikasi tersebut merupakan hasil kebijakan Manajemen PT. PLN (Persero) tahun 2000 terkait dengan Informasi Stok Material PLN, Penyusunan HPS, dan Monitoring Pergerakan Material. Sedangkan hasil Amanat RUPS tahun 2003 menetapkan agar PLN mengoptimalkan eProc yang sudah dikembangkan untuk tercapainya harga pembelian yang optimal dan tercapainya inventoru PLN yang efisien. Proses pengadaan secara manual dapat mengakibatkan sulitnya informasi mengenai harga satuan khusus di internal PLN, perlakuan yang tidak sama kepada Calon Penyedia Barang/Jasa (CPBJ), dan lemahnya pertanggung jawaban terhadap proses pegadaan sehingga mengakibatkan resiko di kemudian hari.

Terkait tidak adanya informasi stok barang di gudang, mengakibatkan sulitnya mencapai sasaran stok optimal. Aplikasi eProc mampu membawa manfaat bagi Perusahaan yakni adanya standardisasi proses pengadaan, terwujudnya transparansi dan efisiensi pengadaan yang lebih baik, tersedianya informasi harga satuan khusus di internal PLN, serta mendukung pertanggung-jawaban proses pengadaan. Beberapa kendala dalam implementasi eProc dapat teratasi dengan adanya komitmen pada seluruh jajaran manajemen dan pelaksana pengadaan untuk menggunakan eProc sebagai sarana proses pengadaan barang/jasa di PLN, dan melakukan sosialisasi secara bertahap serta melakukan penyederhanaan proses pengadaan, memanfaatkan teknologi dan pengembangan aplikasi yang bersifat fleksibel.

Ruang lingkup eProc PLN dibagi menjadi 3 (tiga) kebutuhan utama, antara lain : Cataloging Information System, Supply Chain Management (SCM) System, Portal e-Proc PLN. Pada kebutuhan Cataloging Information merupakan pemenuhan kebutuhan atas terbentuknya database katalog material (MDU, sparepart, SCADA, Pembangkit, Bahan Bakar, dll); sharing informasi dari persediaan, bursa, harga satuan, HPS, daftar pemasok; menyusun daftar rencana pengadaan material. Pada kebutuhan SCM System merupakan perwujudan dari pengadaan material melalui bursa antar Unit PLN, pengadaan barang/jasa melalui e-bidding dan e-auction. Sedangkan sarana portal eProc merupakan usaha untuk memberikan hosting portal kepada pihak lain yang inign menggunakan jasa layanan pengadaan barang/jasa, memberikan layanan promosi/iklan melalui portal eProc, dan menjadi pusat penyedia informasi.

Selama tahun 2005-2008, eProc mencatat saving sebesar 4,56% terhadap realisasi Harga Perkiraan Sendiri (HPS), yakni Rp.249,40 Milyar dan pengehematan sebesar Rp.1,6 Trilyun dari Realisasi Rencana Anggaran Biaya (RAB) terhadap Total RAB. Sedangkan total pengadaan yang telah direalisasikan melalui e-Proc selama 4 tahun tersebut adalah sebanyak 3352 pengadaan dari total rencana sebanyak 5071 pengadaan atau 66,1%. Jumlah realisasi pengadaan yang dilakukan melalui e-Proc terhadap rencana pengadaan cenderung meningkat dari tahun 2005 hingga tahun 2008 dengan rata-rata pertumbuhan realisasi pengadaan sebesar 63.91% setiap tahunnya. Sedangkan pada tahun 2007 sampai dengan tahun 2008 terjadi penpenurunan pertumbuhan sebesar 5,89%. Sedangkan pada tahun 2008, e-Proc berhasil mencatat saving sebesar Rp.90,80 Milyar atau sebesar 4.91% berdasarkan Perolehan HPS terhadap Realisasi HPS dan sebesar Rp.457,9 Milyar atau sebesar 8,06% terhadap Realisasi RAB.


Penekanan terhadap HPS tersebut dapat diraih dengan pelaksanaan e-Auction pada pengadaan melalui pelelangan umum, seleksi umum, dan lainnya. e-Auction adalah teknik penyampaian penawaran harga melalui eProc PLN dimana harga yang sudah disampaikan tersebut dikompetisikan di antara CPBJ selama selang waktu tawar menawar yang ditentukan. Aplikasi eProc PLN merupakan representasi dari Kepres 080 tahun 2003 Tentang Pedoman Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, sehingga implementasi eProc nanti dapat dijadikan acuan (benchmark) bagi Instansi Pemerintah atau BUMN lainnya. (Tim eProc PLN - eP&PNA)

Minggu, 09 Maret 2014